jump to navigation

Ekskursi Faroe Maret 5, 2007

Posted by Putri in Berlayar, Info.
trackback

Matakuliah Ekskursi

Walaupun matakuliah bukan sesuatu yang wajib bagi saya selama menyelesaikan disertasi, setiap semester saya sempatkan mengikuti 1-2 matakuliah (4 SKS per semester). Juli 2001 saya ‘sengaja’ mengambil matakuliah ekskursi untuk mahasiswa Vordiplom (tahap sarjana muda kalau istilah dulu di Indonesia). Sengaja karena kesempatan untuk ikut berlayar ke Samudra Atlantik (karena jujurnya belum pernah berlayar ke laut terbuka :D) dan ada bantuan dana dari Universitas Hamburg. Mengapa daerah ini yang dipilih? Lihat posting laporan Student Cruise in Faroes Waters.

Matakuliah ekskursi ini terdiri dari beberapa bagian yang wajib diikuti dan hadir bagi peserta yang ingin ikut kelapangan; (1) Seminar di kelas yang menyangkut materi arus termal dunia (Conveyor Belt and Thermohaline Circulation), arus-arus di Atlantik Utara (North Atlantic Currents), dan kondisi lokal (Local Conditions) Kepulauan Faroe. Masing-masing mahasiswa yang akan ikut ekskursi wajib mempresentasikan salah satu topik yang dapat dipilihnya sendiri. (2) Pengenalan alat-alat seperti CTD, pengecekan alat dan juga pembacaan data di komputer, hingga program display data yang diperoleh. (3) Pengenalan kapal yang akan digunakan, termasuk faktor keamanannya, dan cara-cara keselamatan lainnya. (4) Ekskursi ke lapangan.

Semester itu ada 6 orang yang mengambil matakuliah tersebut, 3 wanita dan 3 pria. Dari universitas Hamburg akan berangkat 6 orang mahasiswa + 1 dosen. Ekskursi dibagi dalam 2 leg. Leg pertama adalah jalur pulau Faroe hingga Irland kembali ke Faroe, dan dilanjutkan leg kedua adalah dari Faroe hingga ke kepulauan Inggris. Agar memudahkan pembagian kamar di kapal, kami dibagi menjadi kelompok wanita, 3 orang, yang akan berangkat pada leg pertama dan kelompok pria 3 orang pada leg kedua.

Kepulauan Faroe

Start ekskursi ini dari Kepulauan Faroe yang terdiri dari pulau-pulau kecil berjumlah sekitar 15 pulau, di barat laut Kepulauan Inggris. Tujuh diantara pulau-pulau itu cukup besar, dengan ibukotanya adalah Torshavn yang terdapat di pulau Streymoy. Posisi kepulauan ini dapat dilihat disini.

Untuk mencapai pulau Faroe salah satunya dengan menggunakan pesawat terbang dari Kopenhagen, Denmark, dengan lama perjalanan sekitar 2 jam. Sekitar 20 menit sebelum mendarat, dari atas pesawat kita bisa melihat pulau-pulau kecil yang berbukit-bukit dengan padang rumput hijau. Yang membuat saya heran saat itu, tidak tampak sedikitpun adanya bandara di pulau-pulau tersebut. Sempat muncul pertanyaan dalam hati, akan mendarat dimana pesawat ini?

AntrikapalTiba-tiba pesawat merendah dan dengan kemahiran pilotnya terbang diantara bukit-bukit pulau kecil, roda pesawat menyentuh landasan, dan kemudian berhenti. Ternyata memang termasuk pendek landasan di bandara tersebut.

Keluar dari bandara, kami harus menggunakan bus menuju Torshavn, ibukota di kepulauan Faroe. Kota Torshavn ada di pulau lain, bukan di pulau dimana bandara berada (Pulau Vagar). Perjalanan menggunakan bus sekitar 1 jam, dilanjutkan penyeberangan antar pulau menggunakan kapal laut sekitar 45 menit. Kapal yang digunakan cukup besar, bisa memuat sekitar 10-12 mobil, termasuk bis yang kami tumpangi. Selanjutnya sekitar 45 menit kami tiba di kota Torshavn.

Di terminal bis kota Torshavn kami sudah dijemput pembimbing kami, dan dengan menggunakan taxi berempat kami menuju ke pantai, dimana Kommandor Jack telah merapat disana. Sudah pukul 15.00, segera kami memasukan barang-barang ke kamar kami masing-masing di kapal dan makan siang di kapal.

Rencananya kami akan berlayar pukul 16, namun karena beberapa peralatan belum siap, maka keberangkatan ditunda hingga tengah malam nanti. Kami memiliki waktu sore itu untuk berjalan-jalan.

Kota Torshavn tidak besar. Kota yang terletak di lereng bukit, dipinggir pantai ini, sangat indah. Rumah-rumah penduduk memiliki ciri khas tersendiri, dengan atap yang ditumbuhin rumput-rumput tebal. Hal ini karena kepulauan itu cukup dingin dimusim dingin, namun tidak banyak salju. Rumput-rumput diatas rumah dimaksudkan untuk menahan udara dingin.

Walaupun kota ini kecil, namun tampak cukup banyak turis. Dari informasi pariwisata, baru saya tahu bahwa kepulauan ini adalah salah satu tujuan wisata turis dengan kelas menengah ke atas. Memang di kota ini barang, penginapan, dan makanan sangat mahal. Beruntung saya dapat ke sana menikmati pemandangan yang indah dengan membayar setengah harga pesawat saja, sementara makan dan penginapan semua ditanggung universitas Hamburg sebagai penyelenggara mata kuliah ekskursi ini.

Mabuk Laut

Pukul 22 kami sudah boleh masuk ke kamar masing-masing. Saat itu kapal belum juga berlayar. Pagi sekitar pukul 5 jam weker yang saya bawa berbunyi, segera saya mandi. Saat mandi, terasa sedikit goyang. Saat melakukan sholat subuh terasa kepala menjadi berat. Sampai saat itu belum terpikir atau tahu kalau kapal sudah mulai berlayar.

Setelah merapikan diri, saya segera ke ruang makan. Niatnya mau sarapan pagi, karena saya mendapat shift kerja jam 8 hingga 12 (pagi dan malam). Di ruang makan hanya tampak satu orang rekan dari Bremen. Dia bilang kalau mulai mabuk laut. Lucunya…saya baru tahu kalau pusing yang saya alami itu yang namanya ‘mabuk laut’ setelah teman itu mengatakan bahwa dia mabuk laut. Pagi itu memang benar-benar tidak ada makanan yang dapat saya makan. Beruntung bisa langsung kerja bersama sang Professor dan dua orang dosen (dari uni Hamburg dan Bremen), sementara mahasiswa lainnya benar-benar mabuk laut dan tidak dapat bangun.

Tips : Dosen saya menganjurkan untuk memakan roti putih keras yang ada di meja makan pagi itu dan minum air putih, untuk tetap mengisi perut agar tidak sampai sakit, tetapi tidak menyebabkan muntah-muntah lagi saat mabuk laut.

Hingga 2 hari mahasiswa lainnya tidak dapat bekerja. Memang gelombang di Atlantik Utara ini cukup tinggi, bahkan badai hujan ditengah laut cukup mengganggu saat ekskursi tersebut. Pertama kali dalam hidup berlayar di lautan luas selama 10 hari. Melihat lampu kapal lain serasa melihat kehidupan🙂

Konveksi Udara

Konveksi

Pemandangan indah yang sempat kami alami adalah adanya konveksi udara di atas samudra Atlantik (seperti foto disamping ini). Pemandangan alam ini terjadi sekitar pukul 21 malam (karena saat musim panas, matahari masih tampak bersinar).

Daerah yang kami survei ini memang merupakan daerah pertemuan air panas dari samudra Atlantik selatan dengan air dingin dari kutub, sehingga kejadian konveksi udara ini sering terjadi di atas samudra Atlantik Utara ini.

Mampir ke Kopenhagen

Bertiga

Setelah 10 hari kami berlayar, kami tiba kembali ke Torshavn, dan selanjutnya terbang ke Kopenhagen. Foto disamping adalah foto kami bertiga dari univeristas Hamburg di depan kapal riset Kommandor Jack. Turun dari kapal itu yang saya rasakan pertama adalah… berjalan seperti digoyang gelombang. Jalan rasanya seperti terombang-ambing. Aneh.

Sesampainya di Kopenhagen, tentunya kami sempatkan jalan-jalan di ibukota Denmark. Bangunan-bangunan bergaya eropa masih mewarnai pusat kota ini, namun sayang keindahannya banyak tertutup papan reklame dan iklan. Cerita jalan-jalan di Kopenhagen diusahakan ditulis lagi dalam cerita tersendiri.

Setelah puas 3 hari jalan-jalan di Kopenhagen, saya kembali ke Hamburg. Tentunya sangat senang jalan-jalan dengan mempergunakan kesempatan yang ada🙂

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: