jump to navigation

Asia Pasifik Terancam Tenggelam November 8, 2006

Posted by Aji in Info.
trackback

JUTAAN jiwa penduduk Asia Pasifik terancam kehilangan tempat tinggal pada 2070 akibat peningkatan permukaan air laut. Negara-negara yang berisiko paling tinggi adalah Bangladesh, India, Vietnam, China, dan pulau-pulau di Pasifik. Demikian terungkap dalam laporan perubahan iklim yang dirilis badan ilmiah tertinggi Australia.

Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO) memperkirakan, pemanasan global di wilayah Asia Pasifik dapat menyebabkan permukaan air laut meningkat hingga 16 cm pada 2030 dan pada 2070 permukaan air laut bisa meningkat hingga 50 cm. Peningkatan temperatur juga memicu peningkatan curah hujan pada musim kemarau di Asia.

Akibatnya, wilayah-wilayah yang terpengaruh berisiko lebih sering dilanda badai tropis dan banjir. ”Secara umum, pantai-pantai negara-negara di wilayah Asia Pasifik sangat rawan terkena dampak negatif perubahan iklim. Ancaman paling besar adalah peningkatan permukaan air laut akibat pemanasan global,” papar laporan CSIRO yang dirilis pada pekan ini. Peningkatan 20–50 cm permukaan air laut, sebagaimana dijelaskan CSIRO, dapat terjadi di garis pantai berjarak total 100.000 km.

Pantai-pantai yang terancam tenggelam terutama adalah Delta Mutiara di China dan Delta Bangladesh. Akibatnya, ratusan jiwa penduduk setempat terancam kehilangan tempat tinggal. Laporan tersebut juga mengungkapkan, peningkatan permukaan air laut dan curah hujan berisiko memicu wabah penyakit menular di wilayah-wilayah yang terpengaruh. Karena itu, ratusan juta jiwa penduduk yang terkena bencana berisiko terserang malaria dan demam berdarah.

CSIRO mengungkapkan, perekonomian lokal dan regional akan terpukul telak oleh bencana akibat peningkatan permukaan air laut itu. Sri Lanka adalah negara yang paling rawan terkena krisis ekonomi akibat bencana. CSIRO menilai, meningkatkan suhu 2 derajat Celsius dapat memangkas 2,4% produk domestik bruto (PDB) Sri Lanka. Laporan itu juga memperingatkan, bencana dapat memicu pengungsian besar-besaran korban banjir.

CSIRO menilai, saat ini migrasi bahkan sudah berlangsung. Para penduduk di pulau-pulau Pasifik Selatan sudah meninggalkan domisili mereka karena peningkatan permukaan air laut. Dalam dua tahun terakhir, sekitar 17.000 penduduk pulaupulau Pasifik Selatan yang mengungsi tersebut sudah mengajukan kewarganegaraan Selandia Baru. Pada 2003, jumlah pemohon kewarganegaraan di Selandia Baru hanya berjumlah 4.000 orang.

Negara di pulau Pasifik Selatan Mikronesia itu mengalami peningkatan permukaan air laut tahunan 21,4 mm sejak 2001. Secara terpisah, penelitian yang diterbitkan Friends of the Earth from the Global Development and Environment Institute, Tufts University, AS, memperkirakan, kegagalan masya-rakat dunia untuk mengurangi pemanasan global dapat menyebabkan kerugian triliunan dolar AS pada akhir abad ini.

”Sistem iklim memiliki momentum besar seperti halnya sistem perekonomian. Kita harus mulai mengurangi efek rumah kaca dengan mengurangi polusi untuk menghindarkan terjadinya bencana pada dasawarsa mendatang,” papar Frank Ackerman, salah seorang penyusun penelitian. Penelitian itu memperkirakan, kerugian ekonomi global akibat pemanasan global dapat menembus angka 11 triliun poundsterling (Rp 187.807,8 triliun) per tahun hingga 2100.

Angka itu setara dengan 6–8% output ekonomi global. Sebagian besar ilmuwan saat ini sepakat suhu rata-rata akan meningkat 2–6 derajat Celsius pada akhir abad. Pemanasan global terjadi akibat gas-gas rumah kaca seperti karbon dioksida yang ditimbulkan pembakaran bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik dan transportasi.

Laporan itu mengungkapkan, bencana dapat dihindari jika masyarakat dunia bersedia mengurangi tingkat polusi. Untuk menghindari peningkatan 2 derajat Celsius suhu bumi, dunia membutuhkan biaya 1,6 triliun poundsterling (Rp 27.317,4 triliun). Dengan biaya sebesar itu, dunia dapat mencegah kerugian senilai 6,4 triliun poundsterling (Rp109.270 triliun). (AFP/Rtr/CR-19)

Komentar»

1. kandaga - November 15, 2006

Mas Aji,

Nice info.
Tapi saya tidak lihat sea level rise akibat thermal expansion atau ice melting ? Untuk region Asia Pasifik, khususnya Indonesia, dampak ekonomi sea level rise akibat, katakanlah thermal expansion, tidak separah pengaruh bencana kekeringan akibat global warming. Kekeringan bukan diakibatkan berkurangnya curah hujan, melainkan peningkatan Intensitas curah hujan tanpa disertai perbaikan daya serap lahan akibat transformasi hutan menjadi lahan “produktif” atau area2 serapan air menjadi area sarapan sambil golf atau “kapling2” dosen yg banyak proyek..heu..heu.
Coba aja baca laporan IPCC mengenai dampak global warming untuk tropical countries.. mengerikan.. kayak multiple effects gitu.. kekeringan alias water scarcity, berlanjut ke kekurangan pangan, dan kekurangan energi (pembangkit listrik memble kan..kalo airnya terlalu hot).

2. agusset - November 17, 2006

Iya, sebenarnya kalau terjadi global warming, dampak di daerah tropis adalah tingginya laju evaporasi, bukan begitu? Artinya, justru akan terjadi peningkatan curah hujan di daerah tropis seperti Indonesia. Sayangnya, karena banyak terjadi konversi lahan dan daerah resapan air, air yg seharusnya tersimpan sebagai air tanah “berlari” di permukaan tanah dan akhirnya ke laut (seperti syair di lagu Bengawan Solo). Lha ini kan juga berarti terjadi “local sea level rise” toh?

Sebetulnya buat Indonesia mudah kan mengatasi global warming? Galakkan saja gerakan penghijauan alias reboisasi. Perketat juga ijin konversi lahan dan sejenisnya. Untuk kota yang padat penduduknya, mungkin harus dari sekarang dipikirkan pola perumahan yang tidak perlu memakan banyak tempat, dan memperbanyak taman2 kota yang hijau dan rindang. Jangan lupa juga galakan lagi program keluarga berencana untuk meredam tingginya angka kelahiran…

Sayangnya, jalan Thamrin aja dibabat pohon2nya buat pelebaran jalan…

3. Anang - November 21, 2006

indonesia bakal tenggelam juga dong… wah kasihan…

4. Tyta Winta - Desember 14, 2006

Ck..ck..tragisss…Menurut para ahli kelautan (dituliskan dalam suatu artikel) life begin in the ocean…and then after i read this…means a lot …life ended in the ocean…????

5. Sudomo Ostip Manurung - April 16, 2007

Dear All,….Sebelumnya apa khabar semuanya?

Sebenarnya, dampak dari global warming lebih dasyat dari naik muka air laut, tenggelamnya lautan dll. Tetapi yang paling parah (jangka pendek) adalah ikllim yang tdk menentu yang mengakibatkan khan pada perimbangan pangan…terjadinya kelaparan.

Dan paling parah kedua adalah punahnya flora dan fauna yang tdk bisa adaptasi dengan kondisi ini, kemudian akan timbul flora dan fauna yang mampu beradaptasi..kemungkinan adanya new virus dan bacteria yang baru (who knows lah).

Saat ini saya dan rekan- rekan TIM LITBANG DETEKSI DINI Bank Indonesia sedang mengkaji “dampak Global warming thd perekonomian”

Teman-teman semua saya mohon bantuan nya…nanti juga akan ada uang proyeknya seperti kata Pak Kandaga tadi…he..he.

Akhir Kata salam Buata , Mas Agus (kapan ngopi di lagi …he..he..he)..Bos kandaga dlll. Saya sekarang bekerja deket BPPT euy gedungnya Tinggi Pisan

6. Ian siti wahyuni - Juli 17, 2007

Dampak global warming paling parah adalah mencairnya es di kutub. Yang dapat menenggelamkan pulau-pulau, dan akan terjadi kiamat.

7. anna - Oktober 2, 2007

global warming seharusnya jadi global warning dong buat kita.
untuk mencegahnya, bagaimana kalo setiap orang yang punya kendaraan (utamanya yang berbahan bakar fosil) harus menanam pohon atau memelihara tanaman yang kira-kira sebanding dengan pencemaran yang dia lakukan terhadap alam.
Jadi ceritanya, si Global Warmer (sebutanku untuk si penyebab global warming) membayar atas pamakaian bahan bakar kendaraannya yang turut menyumbangkan polusi bagi bumi)
nah, buat teman-teman yang ahli, hitung dong berapa pohon yang harus ditanam untuk setiap liter bensin yang terpakai dan menyumbang carbon.

8. Desi - November 28, 2007

Untuk pemerintah di DUNIA AYOOooooo donk tindak tegas dengan masalah ini. Adain program tanam sebanyak-banyaknya pohon guna mengurangi polusi. Kita sekarang taukan kalo di Indonesia aja pengguna kendaraan bermotor semakin banyak, pohon2 semakin berkurang malahan ditebangin untuk dijadiin jalan raya atau sebagainya.Banyak gedung2 tinggi pencakar langit, Hutan2 ditebangin, polusi dimana-mana, macet dimana-mana. yg paling Ironinya tuh angkot2 kdng2 aja dlm satu angkot itu cuma ada 1 atau 2 penumpang, nahhh angkot mereka itukan juga diisi bahan bakar jadi makin banyak polusi donk dan itu juga kan menjadi salah satu faktor global warming. Global warming Ngga bakal hilang gitu aja tapi bisa kita kurangin Maka dari itu AYoooo kita semua sadar dan berusaha mengurangi terjadinya global warming……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: