jump to navigation

Strumflut in Hamburg, 01.11.2006 November 1, 2006

Posted by Putri in Diskusi, Info.
trackback

Pasang surut di Laut Utara yang langsung berhubungan dengan Samudra Atlantik Utara memang dikenal memiliki amplitudo yang cukup besar.

Saya hanya ingin memberikan informasi yang terjadi semalam di Hamburg. Strumflut atau air pasang tinggi yang disertai badai dan angin kencang terjadi di Hamburg sejak tanggal 31 Oktober sore hari. Angin bertiup semakin kencang. Di setiap website online tentang Hamburg telah memberikan informasi akan terjadinya badai malam ini. Angin dengan kecepatan maksimum 140Bf terjadi semalam. Bisa membayangkan apa aja yang bisa dibawa dengan kecepatan tersebut? Rasanya sulit membayangkannya ya.
Sebagai oceanographer.. yang menarik adalah gambar dan tabel berikut :

Warna hijau adalah hasil peramalan pasang surut berdasarkan data-data astronomi, warna merah adalah data pengamatan, dan warna kuning yang diprediksikan akan terjadi dalam waktu sekitar 6 jam yang akan datang. Bisa dilihat diakhir garis merah (pengamatan) bahwa nilai yang diprediksi begitu mendekati kejadian yang terjadi. Dilaporkan bahwa air tinggi tertinggi siang tadi 2,53m di atas nilai rata-rata tertinggi, masih di bawah 3m perkiraan yang dilakukan oleh Bundesamt für Seeschifffahrt und Hydrographie (BSH).

Alle Höhenangaben sind bezogen auf Pegel-Null
All values are relative to Tide Gauge Zero [cm]

Mittleres Hochwasser
Mean High Water
MHW

Mittleres Niedrigwasser
Mean Low Water
MNW

Normalnull
Ordnance Datum
NN

Seekartennull
Chart Datum
SKN

Letzter Wert
Last value
01/11 19:59

709

347

500

310

461.0

 

Vorhersage/Forecast
Abweichung vom MHW/MNW
Time: GZ/local time

HW

NW/LW

HW

 

02.11.

02.11.

02.11.

 

00:56

07:57

13:19

 

+0,50 bis +0,75

+0,40 m

+0,75 m

 

Measurement (Raw Data)

dd

mm

GZ
local time

Höhe/height
PegelNull
Tide Gauge Zero
[cm]

Höhe/height
SeeKartenNull
Chart Datum
[cm]

01

11

19:50

457

148

01

11

19:40

456

147

01

11

19:30

456

147

01

11

19:20

458

149

01

11

19:10

460

151

01

11

19:00

464

155

01

11

18:50

470

160

01

11

18:40

475

166

01

11

18:30

482

172

01

11

18:20

488

179

01

11

18:10

495

185

01

11

18:00

502

193

01

11

17:50

510

201

01

11

17:40

518

209

01

11

17:30

527

218

01

11

17:20

536

227

01

11

17:10

545

235

01

11

17:00

554

244

01

11

16:50

562

253

01

11

16:40

572

262

01

11

16:30

581

271

01

11

16:20

590

280

01

11

16:10

598

289

01

11

16:00

607

298

01

11

15:50

616

307

01

11

15:40

625

316

01

11

15:30

634

325

01

11

15:20

643

334

01

11

15:10

652

343

01

11

15:00

662

352

01

11

14:50

671

361

Saya bukan ahli pasang surut. Mungkin ada teman-teman yang lebih ahli dalam menganalisisnya. Saya hanya ingin memberikan data dan fakta yang mungkin tidak akan dijumpai diperairan Indonesia secara umum. Lebih bagus lagi kalau ada yang bisa memberikan ide dan pendapatnya dalam menganalisis kejadian ini.

Foto-foto setelah kejadian dapat dilihat di sini.

Komentar»

1. kandaga - November 5, 2006

mungkin inggrisnya strom-surge ya mbak. di Indonesia juga kadang-kadang ketemu kalo ada low pressure di indo-australian basin atau bahkan hindia barat, tercatat kenaikan muka air yg signifikan di cilacap. Analisa gelombangnya saya rasa cukup umum.
Pertama, tentunya ada kenaikan mean level karena low pressure di offshore memaksa adanya high pressure di inshore alias kenaikan muka air. Kedua, akan tercatat 1 gelombang pertama dgn amplitudo yg relatif lebih kecil…hasil hembusan angin beberapa jam pertama yg bisa dianalogikan dengan “seas” mengikuti teori relasi dispersi gelombang. Ketiga, tercatat gelombang kedua dgn amplitudo yg besar. Gelombang ini gelombang yg lebih mateng, karena hembusan angin lebih lama yg menyebabkan energinya lebih besar.
Ketiga, mengikuti sifat asimtotik gelombang dan gravitasi sebagai restoring force, bisa diprediksi bagaimana kelanjutan pattern dari gelombang. Amplitudo gelombang akan terus melemah, dan akhirnya mengikuti pattern pasut seperti biasa… msl nya balik lagi ke normal.

Feeling saya sih, kenapa muka air nya masih lebih rendah dari prediksi… karena input angin di model di beri kondisi tunak dengan kecepatan angin maksimum… yah mereka pikir the worst case lah. Dan memang susah bgt untuk simulasi dgn kondisi angin unsteady, masalahnya mereka dealing dgn outburst wind.. alias angin ngamuk.. kebayang tuh instabilitas di model..heu..heu..

2. putri - November 8, 2006

Kandaga,
makasih banyak penjelasannya ya.

btw… saya mau ke Bali. Insya Allah ketemu ama… ehmm🙂 Mau nitip salam gak? hehehe…

3. kandaga - November 10, 2006

Mbak Yaya,

Saya juga mau plg dulu bulan depan. Tapi kalo mbak ke Bali duluan, ya nitip salam aja.. supaya dobel…haha. Bisa ketemuan di Bdg? saya kepengen nemuin mbak Yaya dan om Agus.. pgn diskusi atau tepatnya saya banyak bertanya. Saya di Indo Insya Allah dari Des 15 – Jan 14.
Ke AGU di San Francisco ? kalo ya, sampai ketemu di SF..

anyway, nice blog.

4. asyae - Juni 24, 2008

Duh..akhirnya bertemu sama blog ini🙂 Senang berkenalan sama ibu.

Beberapa bulan lalu saya sempat ikut ngukur pasang surut air du hulu sungai Mahakam, Kaltim. Sedikit ga nyambung sih, saya ingin pencerahannya bu.. bagaimana kita bisa mendefinisikan pasut air sungai dalam konteks oseanografi.

Terima kasih,
A Syafran Ekasapta


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: