jump to navigation

50 Tahun Institut für Meereskunde Hamburg (1) Oktober 11, 2006

Posted by Putri in Info, Tokoh.
add a comment

Institut für Meereskunde

Tanggal 11-12 Oktober 2006 ini diadakan Kolokium dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-50 Institut für Meereskunde (IfM) di Hamburg. Bagi manusia umur yang cukup tua 50 tahun ini dan bagi manusia yang diharapkan adalah kemapanan dalam hidup. Bagaimana dengan Institut ini?

Perayaan Anniversary cukup sederhana dilakukan pagi ini di IfM, tapi begitu hangat dan penuh informasi tentang sejarah Institut ini. Di mulai pukul 9.00 dan diawali dengan sambutan dari Prof. Detlef Stammer sebagai direktur Institut saat ini, yang memberikan wawasan mengenai kondisi Institut saat ini dan perkembangannya yang akan datang. Beliau baru aktif di IfM ini sejak tahun 2003/2004. Dilanjutkan dengan sambutan dari wakil senator Universitas Hamburg yang menceritakan mengenai latar belakang dan sejarah negosiasi di Universitas hingga terbentuknya Institut ini. Sambutan ketiga dari Juru bicara ZMAW dimana IfM berada dibawah pusat penelitian ini, dan salah satu pemrakarsanya adalah Prof. Dr. J. Sündermann.

Prof. Dr. Sündermann ini selanjutnya menyampaikan sejarah terbentuknya Institut für Meereskunde ini. Diawali dari sejarah berkembangnya ilmu oseanografi itu sendiri di Jerman, khususnya di Hamburg ini. Tahun 1919 mulai dirasakan perlu adanya penelitian dan pengajaran mengenai Meereskunde (Ilmu Oseanografi). Berada dibawah bidang Geografi, Geofisika, dan Zoologi, mulailah diadakan penelitian dengan tema laut. Tahun 1926 kegiatan hidrografi dilakukan dan ujian pertama di bidang kelautan ini baru ada pada tahun 1929. Matakuliah Oseanografi sendiri baru diadakan pada tahun 1939.

Hansen Hingga pada tanggal 1 Oktober 1956 Walter Hansen mendirikan Institut für Meereskunde ini dan beliau sebagai direktur pertama IfM. Tema utama dari institut ini adalah fisika oseanografi. Beliau adalah orang pertama yang mengembangkan model numerik dari persamaan matematika sederhana 1 dimensi di kanal untuk menghitung gerak pasang surut di Sungai Elbe (Sungai Elbe ini mengalir membelah kota Hamburg dan bermuara di Laut Utara, sebelah barat laut kota Hamburg).

Hingga pada tahun 1977 beliau pensiun dan digantikan Prof. Dr. Sündermann sebagai professor dan direktur IfM. Prof. Sündermann ini awalnya adalah professor dibidang mekanika arus di Universitas Hannover. Dapat dikatakan Beliau-lah yang mengembangkan IfM ini menjadi besar dan beragam. Dimulai dengan idenya mengembangkan pemodelan numerik yang memang sudah menjadi dasar utama institut ini, mengajak beberapa professor dan mengembangkan stasiun-stasiun pengukuran dan pengumpulan data yang dimulai dari Laut Utara dan Laut Baltic, mendatangkan professor dalam bidang Remote Sensing dan satelit, dilanjutkan dengan pengembangan ilmu dengan munculnya kelompok bidang Pemodelan Ekologi.

Sampai hari ini ada 5 kelompok bidang di IfM ini, yaitu :

  1. Theoritical Oceanography
  2. Shelf Oceanography
  3. Regional Oceanography
  4. Remote Sensing
  5. Ecological Modelling

Disebutkan pula perkembangan penelitian, model, dan pengematan mulai dari yang paling sederhana hingga terkini. Selain cerita mengenai perkembangan ilmu dan teknologi, ternyata Institut ini pun mengalami perkembangan gedung yang digunakan. Berikut 5 lokasi IfM dalam sejarahnya :

Gedung lama

Dari kiri ke kanan adalah gedung IfM di Abteistraße 15 (1956-1963), Neue Rabenstraße 13 (1963-1964), di Heimhuder Straße 71 (1964-1984), dan di Troplowitzstraße 7 (1984-2004). Dan mulai tahun 2004 hingga sekarang IfM berada di Bundesstraße 53 (gambar paling atas).

Perkembangan organisasi di awal-awal tahun terbentuknya institut ini dan penyederhanaan organisasi di Universitas Hamburg pada tahun-tahun terakhir ini, membuat institut ini mengalami perubahan yang tidak sedikit. Namun, perubahan apapun perkembangan ilmu ini masih dirasakan sangat perlu dan institut ini masih ada, serta berkembang membangun kerja sama antar universitas di Jerman sendiri, maupun kerja sama internasional di bidang pendidikan dan penelitian kelautan.

=== <<>> ===

Sungguh… ada rasa bangga lulus dari IfM, di bawah bimbingan Prof. Dr. Sündermann, sempat mengalami kerja di dua gedung IfM yang terakhir ini, dan… bangga pernah dan sedang bekerja disini. Alles Gute IfM!

Kebenaran Al Quran – Air Masin & Air Tawar.. Juli 12, 2006

Posted by Putri in Penelitian, Renungan, Tokoh.
21 comments

"Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang
lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi." (Q.S Al Furqan:53)


Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery' pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli
oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai
dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang
sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding
atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di
tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu
setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu.

Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan
dengan Terusan Suez. Ayat itu berbunyi "Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan..." Artinya: "Dia membiarkan dua lautan mengalir yang
keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing .."

Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas. Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir; yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi
pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi. Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang
bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari
sungai dan air masin dari laut.

Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi "Yakhruju min huma lu'lu`u wal marjaan" artinya "Keluar dari keduanya
mutiara dan marjan." Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur'an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur'an ini
mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi
yang jauh terpencil di kedalaman samudera.

Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau
pun berkata bahwa AlQur'an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan
seketika dia pun memeluk Islam. Allahu Akbar...! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha
Agung.

Shadaqallahu Al Azhim.

(Kiriman: Almy)