jump to navigation

Survey dan Perbaikan Pipa Gas dengan alat ROV Juni 26, 2007

Posted by Putri in Berlayar, Info, Penelitian.
10 comments

Survey dan Perbaikan Pipa Gas dengan alat ROV

di Area Kerja ConocoPhillips (West Natuna Sea)

Ir.H.Hasanuddin WM.,MSc*

 

Remotely operated underwater vehicles (ROVs) merupakan nama yang digunakan untuk robot di dunia industri lepas pantai. ROV sangat bermanfaat dan mudah dilepas dan dioperasikan dari kapal. Robot ini dihubungkan dengan kabel dan dilengkapi dengan video camera dan peralatan lainnya untuk survey dan pekerjaan bawah laut. Sistem tenaga hidraulik yang besar terdapat pada alat ini. Peralatan tambahan dapat pula dipasang pada ROV, seperti sonar, magnetometer, pemotong dan lain-lain.

Salah satu aplikasi penggunaan peralatan ROV ini adalah survey dan perbaikan pipa dibawah laut, yaitu survey posisi dan pemetaan dasar laut untuk melihat keamanan pipa dan jaringannya. Bila pipa dan jaringannya dibiarkan begitu saja maka akan timbul kerugian yang besar apalagi kalau pipa itu pecah dan meledak, maka pasokan gas akan terputus. Oleh karena itu seringkali kegiatan survey ini selalu bersamaan dengan perbaikan pipa atau dikenal dengan rektifikasi pipa.

Ini merupakan proyek atau pekerjaan oceanografi yang besar dan mahal disamping membutuhkan peralatan ROV, manusia yang berkeahlian dan kapal survey. Kapal surveynya sendiri juga mempunyai peralatan dynamic position (DP) yaitu semacam baling-baling atau thruster. Hal ini diperlukan, karena kapal tidak boleh buang jangkar ditengah laut pada saat survey sehingga tidak mengganggu pipa-pipa yang akan disurvey dan direktifikasi.

Pipa gas dan jaringannya terhampar begitu saja dibawah laut, kondisi topografi bawah laut itu seperti halnya didarat, turun naik, berbukit-bukit tingginya bervariasi antara 0 sampai 60 meter. Kondisi inilah yang menyebabkan pipa gas itu bebas atau yang sering disebut dengan istilah freespan, artinya pipa itu tidak didukung oleh penyangga diantara dua buah bukit. Freespan bisa panjang-panjang, kalau freespan-nya panjang maka perlu adanya penyangga biasanya digunakan karung-karung yang dicor semen. Karung-karung tersebut dengan nama grout bag. Pekerjaan itu semuanya ditangani oleh ROV. Ada juga istilah touch down untuk ujung-ujung pipa yang menempel atau menyentuh bukit diantara free span.

ROV tidak saja melakukan pekerjaan tersebut diatas, tetapi alat ini digunakan untuk memutar valve atau stop kran yang menghubungkan jaringan pipa dengan platform atau anjungan. Ada banyak ball-valve (BV) yang diputar dan ditutup atau dikenal dengan istilah exercise.

ROV seolah mata dan tangan kita, seolah-olah kita menyelam didasar laut. Kita seakan-akan menyelam dan bekerja dibawah laut. Pekerjaan ini mengasyikan, tetapi kalau datang arus kuat didasar laut dan juga di permukaan laut, hal itulah yang “kurang” mengasyikan. Kapal akan goyang, terkadang peralatan seperti laptop, digital camera dan alat penunjang lainnya terlempar dari meja kerja kita. Inilah tantangan bekerja di laut. Para oceanographer selalu membuat prediksi-prediksi harian tentang gelombang, cuaca, arah angin, tinggi gelombang laut, wave, petir, hujan dan lain sebagainya yang dapat diperoleh informasinya dari platform dan stasiun terdekat, serta Radar di kapal survey. Bila kita amati di radar kapal survey, maka akan termonitor kapal-kapal disekitar kita, dan pergerakan awan dan hujan disekitar kita dengan radius yang cukup besar. Tentu saja radar dapat mendeteksi kecepatan awan dan hujan berikut arahnya.

Awak kapal (vessel-crew) oceanographer, surveyor (geodesy) dan teknisi selalu melakukan latihan keselamatan kerja yang kita sebut sebagai safety drill. Safety drill adalah sangat penting, mengingat kita bekerja dilaut lepas yang rawan kecelakaan kerja.

Kegiatan Survey da Rektifikasi

Kegiatan survey dan rektifikasi pipa gas dan jaringannya yang menghubungkan antara platform atau anjungan yang berada di lepas pantai perairan barat Natuna atau dikenal dengan west Natuna Sea ini memerlukankan waktu sekitar 6 bulan, yang diselingi dengan pengambilan bahan-bahan seperti semen, batu kerikil dan makanan dari Batam. Sedangkan kapal survey berangkat dari Singapura. Inilah ironisnya, kapal-kapal survey itu selalu berlabuh di Singapura, tidak mau di Batam, karena alasan birokrasi di Indonesia yang terlalu rumit (njelimet dan bikin bingung), juga terlalu banyak pungutan liar atau setengah liar. Padahal dari sisi teknis pelabuhan di Batam sudah memadai untuk digunakan sebagai pelabuhan kapal-kapal survey.

Teknologi tepat guna bawah laut adalah dengan menebar atau menghampar kerikil didasar laut yang lembek atau dikenal dengan soft sea bad. Pada tanah yang lembek itu biasanya grout bag ambles dan posisinya menjadi tidak tegak, bahkan cenderung miring akibat adanya kekuatan arus bawah laut. Problem ini acapkali terjadi di periran Natuna Barat bagian utara. Hal ini berbeda dengan di bagian selatan yang dekat Batam dan Singapura yang sea bad nya cukup stabil. Mengapa hal ini terjadi? Ini yang masih harus dijawab oleh para oceanographer.

Banyak hal yang ditemukan pada saat survey seperti halnya fish-net yaitu jaring-jaring ikan yang menyangkut di pipa gas, marine grout (tumbuhan laut) yang menempel di pipa. ROV takut terhadap fish net ini, karena bisa merusak thruster atau baling-baling penggerak ROV. Kalau nyangkut ROV akan mati dan harus ditarik keatas. Ini sangat berat, karena ROV work class yang digunakan beratnya lebih dari 1 ton, tetapi bisa dikerek dengan alat katrol yang dilengkapi dengan mesin pengkerek ROV.

 

Klasifikasi ROV

ROV ada berbagai macam , ada yang kelas inspeksi (inspection-class) dan yang kelas kerja atau (work-class). ROV kelas inspeksi seperti gambar dibawah ini :

 

ROV sea eye falcon ini kecil dan agak ringan, biasanya digunakan untuk survey dan pekerjaan test karat (catodhic protection) konstruksi platform dan bangunan air lepas pantai, sedangkan yang work-class seperti dibawah ini:

 

ROV inilah yang digunakan untuk survey dan rektifikasi pipa gas bawah laut.

Uraian ini ditulis singkat saat melakukan survey di laut lepas west Natuna Sea. Pada kesempatan lain akan dituliskan artikel lainnya yang berhubungan dengan tulisan ini.

Salam dari bagian barat Laut Natuna,

>>>>>>>> @@@ <<<<<<<<

*) Ir.H.Hasanuddin WM.,MSc adalah Manager Survey PT PATRA DINAMIKA (PERTAMINA-GROUP) . Beliau alumni GM-ITB angkatan 1976.

Ekskursi Faroe Maret 5, 2007

Posted by Putri in Berlayar, Info.
add a comment

Matakuliah Ekskursi

Walaupun matakuliah bukan sesuatu yang wajib bagi saya selama menyelesaikan disertasi, setiap semester saya sempatkan mengikuti 1-2 matakuliah (4 SKS per semester). Juli 2001 saya ’sengaja’ mengambil matakuliah ekskursi untuk mahasiswa Vordiplom (tahap sarjana muda kalau istilah dulu di Indonesia). Sengaja karena kesempatan untuk ikut berlayar ke Samudra Atlantik (karena jujurnya belum pernah berlayar ke laut terbuka :D ) dan ada bantuan dana dari Universitas Hamburg. Mengapa daerah ini yang dipilih? Lihat posting laporan Student Cruise in Faroes Waters.

Matakuliah ekskursi ini terdiri dari beberapa bagian yang wajib diikuti dan hadir bagi peserta yang ingin ikut kelapangan; (1) Seminar di kelas yang menyangkut materi arus termal dunia (Conveyor Belt and Thermohaline Circulation), arus-arus di Atlantik Utara (North Atlantic Currents), dan kondisi lokal (Local Conditions) Kepulauan Faroe. Masing-masing mahasiswa yang akan ikut ekskursi wajib mempresentasikan salah satu topik yang dapat dipilihnya sendiri. (2) Pengenalan alat-alat seperti CTD, pengecekan alat dan juga pembacaan data di komputer, hingga program display data yang diperoleh. (3) Pengenalan kapal yang akan digunakan, termasuk faktor keamanannya, dan cara-cara keselamatan lainnya. (4) Ekskursi ke lapangan.

Semester itu ada 6 orang yang mengambil matakuliah tersebut, 3 wanita dan 3 pria. Dari universitas Hamburg akan berangkat 6 orang mahasiswa + 1 dosen. Ekskursi dibagi dalam 2 leg. Leg pertama adalah jalur pulau Faroe hingga Irland kembali ke Faroe, dan dilanjutkan leg kedua adalah dari Faroe hingga ke kepulauan Inggris. Agar memudahkan pembagian kamar di kapal, kami dibagi menjadi kelompok wanita, 3 orang, yang akan berangkat pada leg pertama dan kelompok pria 3 orang pada leg kedua.

Kepulauan Faroe

Start ekskursi ini dari Kepulauan Faroe yang terdiri dari pulau-pulau kecil berjumlah sekitar 15 pulau, di barat laut Kepulauan Inggris. Tujuh diantara pulau-pulau itu cukup besar, dengan ibukotanya adalah Torshavn yang terdapat di pulau Streymoy. Posisi kepulauan ini dapat dilihat disini.

Untuk mencapai pulau Faroe salah satunya dengan menggunakan pesawat terbang dari Kopenhagen, Denmark, dengan lama perjalanan sekitar 2 jam. Sekitar 20 menit sebelum mendarat, dari atas pesawat kita bisa melihat pulau-pulau kecil yang berbukit-bukit dengan padang rumput hijau. Yang membuat saya heran saat itu, tidak tampak sedikitpun adanya bandara di pulau-pulau tersebut. Sempat muncul pertanyaan dalam hati, akan mendarat dimana pesawat ini?

AntrikapalTiba-tiba pesawat merendah dan dengan kemahiran pilotnya terbang diantara bukit-bukit pulau kecil, roda pesawat menyentuh landasan, dan kemudian berhenti. Ternyata memang termasuk pendek landasan di bandara tersebut.

Keluar dari bandara, kami harus menggunakan bus menuju Torshavn, ibukota di kepulauan Faroe. Kota Torshavn ada di pulau lain, bukan di pulau dimana bandara berada (Pulau Vagar). Perjalanan menggunakan bus sekitar 1 jam, dilanjutkan penyeberangan antar pulau menggunakan kapal laut sekitar 45 menit. Kapal yang digunakan cukup besar, bisa memuat sekitar 10-12 mobil, termasuk bis yang kami tumpangi. Selanjutnya sekitar 45 menit kami tiba di kota Torshavn.

Di terminal bis kota Torshavn kami sudah dijemput pembimbing kami, dan dengan menggunakan taxi berempat kami menuju ke pantai, dimana Kommandor Jack telah merapat disana. Sudah pukul 15.00, segera kami memasukan barang-barang ke kamar kami masing-masing di kapal dan makan siang di kapal.

Rencananya kami akan berlayar pukul 16, namun karena beberapa peralatan belum siap, maka keberangkatan ditunda hingga tengah malam nanti. Kami memiliki waktu sore itu untuk berjalan-jalan.

Kota Torshavn tidak besar. Kota yang terletak di lereng bukit, dipinggir pantai ini, sangat indah. Rumah-rumah penduduk memiliki ciri khas tersendiri, dengan atap yang ditumbuhin rumput-rumput tebal. Hal ini karena kepulauan itu cukup dingin dimusim dingin, namun tidak banyak salju. Rumput-rumput diatas rumah dimaksudkan untuk menahan udara dingin.

Walaupun kota ini kecil, namun tampak cukup banyak turis. Dari informasi pariwisata, baru saya tahu bahwa kepulauan ini adalah salah satu tujuan wisata turis dengan kelas menengah ke atas. Memang di kota ini barang, penginapan, dan makanan sangat mahal. Beruntung saya dapat ke sana menikmati pemandangan yang indah dengan membayar setengah harga pesawat saja, sementara makan dan penginapan semua ditanggung universitas Hamburg sebagai penyelenggara mata kuliah ekskursi ini.

Mabuk Laut

Pukul 22 kami sudah boleh masuk ke kamar masing-masing. Saat itu kapal belum juga berlayar. Pagi sekitar pukul 5 jam weker yang saya bawa berbunyi, segera saya mandi. Saat mandi, terasa sedikit goyang. Saat melakukan sholat subuh terasa kepala menjadi berat. Sampai saat itu belum terpikir atau tahu kalau kapal sudah mulai berlayar.

Setelah merapikan diri, saya segera ke ruang makan. Niatnya mau sarapan pagi, karena saya mendapat shift kerja jam 8 hingga 12 (pagi dan malam). Di ruang makan hanya tampak satu orang rekan dari Bremen. Dia bilang kalau mulai mabuk laut. Lucunya…saya baru tahu kalau pusing yang saya alami itu yang namanya ‘mabuk laut’ setelah teman itu mengatakan bahwa dia mabuk laut. Pagi itu memang benar-benar tidak ada makanan yang dapat saya makan. Beruntung bisa langsung kerja bersama sang Professor dan dua orang dosen (dari uni Hamburg dan Bremen), sementara mahasiswa lainnya benar-benar mabuk laut dan tidak dapat bangun.

Tips : Dosen saya menganjurkan untuk memakan roti putih keras yang ada di meja makan pagi itu dan minum air putih, untuk tetap mengisi perut agar tidak sampai sakit, tetapi tidak menyebabkan muntah-muntah lagi saat mabuk laut.

Hingga 2 hari mahasiswa lainnya tidak dapat bekerja. Memang gelombang di Atlantik Utara ini cukup tinggi, bahkan badai hujan ditengah laut cukup mengganggu saat ekskursi tersebut. Pertama kali dalam hidup berlayar di lautan luas selama 10 hari. Melihat lampu kapal lain serasa melihat kehidupan :)

Konveksi Udara

Konveksi

Pemandangan indah yang sempat kami alami adalah adanya konveksi udara di atas samudra Atlantik (seperti foto disamping ini). Pemandangan alam ini terjadi sekitar pukul 21 malam (karena saat musim panas, matahari masih tampak bersinar).

Daerah yang kami survei ini memang merupakan daerah pertemuan air panas dari samudra Atlantik selatan dengan air dingin dari kutub, sehingga kejadian konveksi udara ini sering terjadi di atas samudra Atlantik Utara ini.

Mampir ke Kopenhagen

Bertiga

Setelah 10 hari kami berlayar, kami tiba kembali ke Torshavn, dan selanjutnya terbang ke Kopenhagen. Foto disamping adalah foto kami bertiga dari univeristas Hamburg di depan kapal riset Kommandor Jack. Turun dari kapal itu yang saya rasakan pertama adalah… berjalan seperti digoyang gelombang. Jalan rasanya seperti terombang-ambing. Aneh.

Sesampainya di Kopenhagen, tentunya kami sempatkan jalan-jalan di ibukota Denmark. Bangunan-bangunan bergaya eropa masih mewarnai pusat kota ini, namun sayang keindahannya banyak tertutup papan reklame dan iklan. Cerita jalan-jalan di Kopenhagen diusahakan ditulis lagi dalam cerita tersendiri.

Setelah puas 3 hari jalan-jalan di Kopenhagen, saya kembali ke Hamburg. Tentunya sangat senang jalan-jalan dengan mempergunakan kesempatan yang ada :)